Beranda | Artikel
Meniadakan Kesyirikan kepada Allah
19 jam lalu

Meniadakan Kesyirikan kepada Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minhaj Al-Firqah an-Najiyah wa ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Sabtu, 13 Jumadil Awal 1448 H / 24 Oktober 2026 M.

Kajian Islam Tentang Meniadakan Kesyirikan kepada Allah

Sehingga betul apa yang dijelaskan oleh para ulama, seperti penjelasan dari Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullahu ta’ala dalam kitab Kasyfus Syubhat, bahwa perbuatan syirik yang terjadi di akhir zaman lebih parah daripada perbuatan-perbuatan syirik yang terjadi di zaman jahiliyah.

Perbuatan syirik yang dahsyat ini justru terjadi di kalangan orang-orang yang katanya kehidupannya sudah modern dan selalu mendahulukan akal sehat. Kebodohan terhadap masalah agama menyebabkan manusia gampang diombang-ambingkan oleh tipu daya setan, kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sesungguhnya untuk meniadakan perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan sempurna kecuali dengan meniadakan dan membersihkan tiga macam jenis kesyirikan. Perbuatan syirik tersebut masih mayoritas dilakukan oleh umat manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan selain-Nya).” (QS. Yusuf[12]: 106)

Tiga Macam Jenis Kesyirikan

1. Syirik dalam Rububiyah

Jenis syirik yang pertama adalah syirik dalam perbuatan Rabb atau syirik dalam rububiyah. Orang-orang musyrik di zaman dahulu meyakini bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ…

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.`” (QS. Az-Zumar[39]: 38)

Konsekuensi dari menetapkan tauhid rububiyah tersebut terputus pada diri mereka karena mereka tidak menetapkan konsekuensinya, yaitu menetapkan uluhiyah dan hak peribadatan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata tanpa ada sekutu bagi-Nya.

Syirik rububiyah terjadi dengan seseorang meyakini bahwa bersama Allah ada pencipta atau pengatur lain di alam semesta ini, sehingga bukan Allah satu-satunya yang mengatur dan berperan dalam suatu urusan di alam semesta. Orang-orang musyrik di zaman jahiliyah tidak mengatakan demikian, sebab mereka tetap meyakini satu-satunya yang mengatur alam semesta adalah Allah, sebagaimana Dia satu-satunya pencipta, pemberi rezeki, yang mendatangkan manfaat, serta Maha Kuasa memberikan kemudaratan jika Dia menghendaki.

Sebagian orang dari kalangan ahli tasawuf memiliki keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerahkan sebagian kunci perkara di alam semesta kepada orang-orang yang dianggap wali, yang dinamakan wali kutub, untuk mengatur perkara di alam semesta. Keyakinan tersebut merupakan bentuk syirik yang luar biasa dan melebihi kesyirikan orang-orang di zaman dahulu. Orang-orang yang ekstrem dalam mengagungkan guru mereka meyakini hal tersebut, padahal itu adalah keyakinan yang sangat kufur.

Keyakinan ini bahkan tidak diucapkan oleh orang-orang musyrik sekalipun sebelum Islam atau di zaman jahiliyah. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an melalui firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan manusia, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?`” (QS. Yunus[10]: 31)

Pengakuan dan penegasan dari orang-orang musyrik tersebut banyak dijumpai di dalam Al-Qur’an. Jika dibandingkan dengan keyakinan sebagian orang yang menisbatkan diri kepada Islam—yang mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerahkan kunci sebagian urusan di dunia kepada wali kutub—maka keyakinan tersebut bahkan melebihi syirik pelaku kesyirikan di zaman jahiliyah. Tipu daya setan dapat menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan yang sangat besar. Yang lebih parah lagi, masih ada orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada Islam tetapi mempercayai hal tersebut serta meyakini keutamaan serta kemuliaan orang-orang yang disebut sebagai wali kutub.

Bukti lain bahwa kesyirikan masih ada di kalangan orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah ta’ala menceritakan bahwa beliau membaca sebuah kitab yang berjudul Al-Kafi fi Raddi ‘ala Al-Wahhabi. Kitab tersebut ditulis oleh seorang yang mengikuti pemahaman tasawuf, yang isinya justru memuat kekufuran dan kesyirikan.

Penulis kitab tersebut menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki hamba-hamba pilihan yang dapat berkata kepada sesuatu dengan kalimat “kun” (jadilah), maka jadilah sesuatu itu. Bahkan para nabi dan para rasul tidak memiliki sifat seperti itu, dan mereka tentu tidak akan mengajak umatnya kepada hal tersebut. Keyakinan itu jelas merupakan kekufuran dan kesyirikan yang sangat besar. Hal tersebut bertentangan dengan ubudiyah yang menjadi ciri utama para nabi, para rasul, dan hamba-hamba Allah yang saleh, yang selalu tunduk serta merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah Ta’ala menjelaskan bahwa Al-Qur’an secara tegas mendustakan keyakinan batil tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an melalui surah Yasin:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Yasin[36]: 82)

Kekuasaan mutlak tersebut hanya dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Malaikat Jibril ‘Alaihis Salatu Wassalam yang merupakan malaikat paling mulia tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang merupakan nabi paling mulia juga tidak pernah mengaku mampu melakukan hal serupa. Hal tersebut ditegaskan melalui firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ…

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Aku tidak memiliki kemampuan memberikan manfaat bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah.`” (QS. Al-A’raf[7]: 188)

Bahkan untuk memberikan manfaat atau menolak kemudaratan bagi diri sendiri saja tidak mampu, apalagi sampai mengatakan “kun” (jadilah) kepada sesuatu. Keyakinan bahwa makhluk memiliki kemampuan tersebut adalah hal yang mustahil dan merupakan bentuk kekufuran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Al-A’raf:

…أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ…

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A’raf[7]: 54)

Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dapat memerintahkan sesuatu dengan kalimat “kun”, karena hal itu merupakan sifat rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang musyrik di zaman jahiliyah pun menetapkan sifat rububiyah tersebut, sedangkan inti kesyirikan mereka terletak pada masalah uluhiyah, yaitu hak peribadatan yang hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, di mana mereka justru menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal beribadah.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Perumpamaan Orang yang Menyeru kepada Selain Allah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56656-meniadakan-kesyirikan-kepada-allah/